Kamis, 02 Juni 2022

Si Bodoh

Memang benar kalo ada yang bilang "orang-orang yang datang dalam kehidupanmu akan selalu memberikanmu pelajaran tentang hidup."
Pernah gagal dalam hubungan jangka panjang ternyata masih belum cukup memberi pelajaran pada si bodoh ini.
Padahal waktu yang pernah dihabiskan dulu sudah terlalu panjang dan terlalu banyak yang bisa dipelajari.
Bahkan kesalahan lain saat itu harusnya sudah bisa jadi bahan belajar juga.
Tapi apa yang dilakukan si bodoh ini beberapa hari yang lalu?
Yap, dia melakukan kebodohan lain.
Kebodohan yang entahlah disesali atau tidak, karena sampai saat ini pun dia masih mengingat semuanya dengan jelas.
Di sela ingatan itu, yang terbersit di pikirannya hanyalah "yaudahlahyaa..."
Padahal si bodoh ini jelas-jelas tau apa yang pihak itu inginkan dan pikirkan ketika itu.
Tapi karena si bodoh ini punya perasaan bodohnya itu, akhirnya dia hanya menerima semuanya. Selain karena sudah terjadi, si bodoh ini juga menyukai apa yang terjadi.
Apa ini hasrat sesaat? Perasaan yang nyata? Kerinduan akan perasaan ketika itu? Atau hanya permainan semata? 
Entahlah, sepertinya si bodoh ini hanya ingin menikmatinya saja, karena dia bahkan tidak tau masa depannya akan seperti apa.

Kamis, 11 Maret 2021

Harusnya aku berada diantara hijau
Jauh dari riuh dunia
Berteman pekat, angin embun dingin dan suara alam.
Meratapi semua hal yang terlalui
Berkeluh dan bergunjing dengan pikiran
Karna setelah ini semuanya akan semakin sulit
Pijakan akan semakin rapuh
Tak ada lagi penopang atau sekedar sandaran
Bahkan bayangan pun tak sudi 
Selamat untuk semua hal yang akan semakin berat
Untuk semua tanggung jawab dan tangis
Pilihannya hanya menderita atau mati.

Rabu, 03 Juli 2019

Dipaksa melupakan

Baru sekali menyadari,
Ada yang sedang dipaksa melupakan, dengan menghapus semua kenangan diri
Padahal hanya perlu instropeksi, kerelaan dan lapang hati
Karena kita sudah sama-sama pahami
Kenapa semua jadi seperti ini
Dan lagi, ingatan tak semudah itu pergi
Tapi tak apa aku mengerti
Memang sudah saatnya dipaksa untuk saling melepaskan diri
Walau tak bisa dipungkiri
Dua sisi bagian hati masih tetap disini
Menolak memisahkan diri
Tak tau pasti, tapi mungkin sampai mati
Sampai jumpa kembali sang sejati
Sampai saatnya bertemu lagi
Kelak nanti dalam keadaan yang abadi

Selasa, 11 Juni 2019

Perihal

Pemandangan langit malam ini adalah pemandangan langit favorit mu.
Ya, langit yang penuh kerlip bintang.
Cahayanya terlihat jelas karena bulan belum menampakkan wujudnya dan tak ada awan yang menghalangi sinar kecilnya.
Malam ini aku duduk disamping rumah, di depan jendela kamar tidurku.
Iya, disitu, tempat biasa kita duduk berdua membicarakan dan melakukan apapun bersama dalam hening dan gelap malam.
Bahkan tertawa dan menangis terisak seperti adegan kebahagiaan tersederhana dan bahkan perpisahan tersedih di drama korea yang pernah kutonton.
Lampu samping rumah yang baru beberapa bulan ini dipasang juga kumatikan.
Agar semua sama seperti saat dulu, bersamamu.
Kenapa? Karna aku sangat merindukanmu malam ini, amat sangat merindukanmu.
Apa kabar kamu mas?
Masih kah kamu mengingatku?
Masihkah ada aku dihati atau mungkin diingatan mu?
Aku yakin masih, karena kita masih sempat berbincang lewat pesan singkat, dan juga sempat bertemu melepas rindu.
Malam ini aku memberanikan menulis ini.
Aku tau aku tak pantas tapi tulisan biarlah sekedar jadi tulisan, dianggap fiksi atau nyata adalah hak dari pembacanya.

Mas, tahukah kamu, kadang aku ragu dengan semua cerita mu yang seakan masih sangat menyayangiku.
Ragu dengan air mata mu yang selalu mengalir ketika bercerita tentang rindumu pada rumah dan keluargaku, dan betapa menyesalnya kamu setelah menyakiti dan menghancurkan ku.
Bukankah airmata seorang lelaki adalah sisi terjujur dalam dirinya?
Tapi kadang sikapmu membuatku mempertanyakan lagi semuanya.

Mas, masih kah kamu bimbang untuk melangkah? Karena semua terlanjur menjadi seperti ini setelah keputusanmu beberapa tahun yang lalu itu?
Lalu sampai kapan mau begini.
Tak bisakah kamu memberi sedikit kepastian untuk semua ini.
Biar kita tak menyakiti orang lain, begitu juga kamu tak menyakiti aku ataupun dia.
Tak bisakah kamu putuskan niatmu, dan berpegang teguh pada niat itu apapun resikonya.
Ada dua hati yang tidak ingin selalu merasakan sakit.
Ada dua hati yang tidak ingin melepaskanmu.
Haruskah aku terus berharap pada sesuatu yang tak pasti, ataukah aku harus menyerah pada sesuatu yang sebenarnya masih punya harapan?
Beri kepastian agar aku tau apa yang harus kulakukan setelahnya.

Dan untukmu yang juga tersakiti.
Aku tau bagaimana perasaanmu, sakit tapi tak ingin melepaskan, berat tapi tak mungkin berpisah dengan posisimu sekarang ini.
Tapi sebelum semua menjadi semakin tak tertolong, tak bisakah kamu sekedar berpikir lebih dalam.
Kita sama-sama tau kenapa semua jadi seperti ini.
Jangan hanya menyalahkan atau membenciku, semua juga sangat menyakitkan untukku.
Tapi lihatlah lebih dalam, sebenarnya siapa yang paling tersakiti.
Bukan kita, dia lebih tersakiti karena tak ingin menyakiti kita, tapi juga tak bisa merelakan ataupun melepaskan kita begitu saja. Dia yang paling tertekan entah itu dipikiran ataupun perasaan.
Tak pernahkah kamu berpikir, apakah senyumnya tulus, apakah perlakuannya selalu dari hati bukan sekedar melaksanakan kewajiban, apakah benar dia memutuskan semuanya karena keinginannya sendiri ataukah hanya sebuah pengorbanan yang dilakukan demi seseorang.
Tak bisakah sekedar memberinya ruang untuk benar-benar berpikir.
Membiarkannya untuk memutuskan sesuai keinginan hati terdalamnya.
Dan menerima apapun keputusan akhirnya.
Agar kita bisa juga bisa memilih jalan yang pasti tanpa harus terus saling menyakiti dan tersakiti.
Butuh banyak kerelaan hati memang.
Tapi keputusan memang selalu disertai resiko.
Jika ingin tetap seperti ini terserah.
Yang perlu kamu tau, aku selalu berusaha melepaskan dan merelakan karena tak ingin menyakiti mu ataupun membuatnya jadi lebih gila.

Senin, 01 April 2019

"Menikah itu nasib, mencintai itu takdir.
Kau dapat berencana menikahi siapa, tapi tak bisa kau rencanakan cintamu untuk siapa."
~ Sujiwo Tejo ~

Selasa, 12 Maret 2019

Kenapa (masih) kamu

"selamat ulang tahun ndul.
Semoga semua yang terbaik buat kamu, lancar semua urusannya, tercapai semua cita-citanya.
Dan maaf untuk semua kesalahan yg masih belum bisa termaafkan.
Happy Birthday"

Tepat tengah malah tiba-tiba chat itu terlihat di notifikasi ponselku.
Aku buka, dan hati ini bergetar membacanya, seakan ditusuk beribu jarum.
Kenapa harus kamu lagi.
Kenapa hanya kamu yg mengingat hari ini, yg memberiku selamat.
Bahkan mengirimkan kado untukku, walau tanpa nama pengirim aku tau itu kamu
Kenapa kamu harus menghancurkan aku lagi ketika kamu telah menjadi milik orang lain yg tak akan lagi pernah bisa aku gapai.
Hampir 2 tahun sudah sejak pernikahan mu kala itu. Aku pikir aku sudah baik-baik saja, karna aku sudah bisa tersakiti oleh orang lain. Aku pikir aku tak lagi punya rasa apapun ke kamu. Aku pikir aku sudah melupakan semua tentangmu.
Tapi hanya dengan satu chat ucapan dari mu. Rasanya duniaku bergejolak, semua kenangan kita seakan diputar ulang, dan perasaanku menjadi tak karuan.
Kenapa masih kamu yg menjadi alasanku menangis dengan dada sesak malam ini.
Sampai kapan?
Tolong bunuh saja perasaan ini.
Perasaan yang sia-sia.
Perasaan yang hanya akan terus menyakitiku.

Jumat, 20 April 2018

Terakhir

Pagi ini hujan turun dengan sangat deras, seakan tak mengijinkanku, mengijinkan kita meninggalkan tempat indah ini. Sebenarnya bukan sesuatu yang buruk untuk bertahan disini, tapi bertahan disini bersamamulah yang membuat semuanya menjadi tidak baik-baik saja, terutama aku dan hatiku.
Karena kamu dan sikapmu yang telah berubah (lagi), dan aku yang telah kembali menjadi seseorang yang tak lagi penting untukmu, tak terlihat.
Memutuskan untuk melakukan perjalanan ini denganmu tidaklah mudah, apalagi aku dengan perasaan ku yang pernah berhasil kamu buat tak karuan. Sekuat apapun aku menahannya pasti perasaan ini akan tetap terbawa meski sedikit.
Aku memang pernah berniat untuk memendam semua perasaan ini dalam-dalam, hanya agar tak ada yang berubah diantara kita, agar aku tetap masih bisa berada didekatmu. Tapi aku berubah pikiran dengan apa yang terjadi disepanjang perjalanan ini.
Hingga akhirnya aku membulatkan tekat untuk berangkat, aku sudah membekali diriku dengan segala sikap-sikap burukmu yang bisa kapan saja akan menyakitiku. Tapi entahlah, sudut hatiku kembali membentuk harapan kosong, walau ukurannya kecil tapi cukup membuat berantakan.
Sebenarnya harapan itu tidaklah terlalu muluk-muluk, harapan itu hanya berisi keinginanku untuk diperlakukan layaknya teman yang datang dari kota yang sama. Seperti bagaimana teman-teman lelakiku dulu memperlakukanku, ya mereka juga hanya teman biasa.
Dan semuanya terjadi tepat seperti perkiraan ku sebelum berangkat. Ditempat indah itu kita dipertemukan dengan orang-orang dari daerah lain, wanita-wanita cantik nan modis, tipemu. Dan tanpa perlu waktu yang lama kamu langsung mengabaikanku dan sibuk untuk mencari perhatian dari mereka. Bahkan saat aku meminta pertolongan mu untuk suatu hal yang benar-benar tak bisa ku atasi sendiripun kamu acuh.
Tak kusangka kamu bisa setega itu, harapan kosong ku pun seakan tak ada apa-apanya dibanding itu.
Karena semua kejadian itu akupun membulatkan tekad, aku akan melupakanmu, melupakan perasaanku kepadamu lebih tepatnya, dengan sepenuhnya.
Untuk terakhir kalinya aku memberanikan diri memelukmu, membenamkan sejenak diriku dipundakmu dengan alasan yang kubuat-buat tentunya. Walau cuma beberapa detik tak apa, aku ingin menganggap ini sebagai ucapan selamat tinggal, hal manis terakhir darimu.
Setelah ini aku akan menghilangkan semuanya, perasaan bahkan kenangan-kenangan yang bahkan kamu tak ingat tapi membekas untukku. Aku akan keluar dari "zona" mu. Aku tak lagi perduli bila akhirnya kita saling menjauh atau malah bermusuhan. Itu lebih baik daripada aku selalu merasakan sakit.
Aku melakukan ini bukan demi siapa-siapa, ini demi aku, demi perasaanku. Perasaan tulus yang selalu kau remehkan dan kau tertawakan.
Inilah akhirnya, akhir dari semuanya.