Pemandangan langit malam ini adalah pemandangan langit favorit mu.
Ya, langit yang penuh kerlip bintang.
Cahayanya terlihat jelas karena bulan belum menampakkan wujudnya dan tak ada awan yang menghalangi sinar kecilnya.
Malam ini aku duduk disamping rumah, di depan jendela kamar tidurku.
Iya, disitu, tempat biasa kita duduk berdua membicarakan dan melakukan apapun bersama dalam hening dan gelap malam.
Bahkan tertawa dan menangis terisak seperti adegan kebahagiaan tersederhana dan bahkan perpisahan tersedih di drama korea yang pernah kutonton.
Lampu samping rumah yang baru beberapa bulan ini dipasang juga kumatikan.
Agar semua sama seperti saat dulu, bersamamu.
Kenapa? Karna aku sangat merindukanmu malam ini, amat sangat merindukanmu.
Apa kabar kamu mas?
Masih kah kamu mengingatku?
Masihkah ada aku dihati atau mungkin diingatan mu?
Aku yakin masih, karena kita masih sempat berbincang lewat pesan singkat, dan juga sempat bertemu melepas rindu.
Malam ini aku memberanikan menulis ini.
Aku tau aku tak pantas tapi tulisan biarlah sekedar jadi tulisan, dianggap fiksi atau nyata adalah hak dari pembacanya.
Mas, tahukah kamu, kadang aku ragu dengan semua cerita mu yang seakan masih sangat menyayangiku.
Ragu dengan air mata mu yang selalu mengalir ketika bercerita tentang rindumu pada rumah dan keluargaku, dan betapa menyesalnya kamu setelah menyakiti dan menghancurkan ku.
Bukankah airmata seorang lelaki adalah sisi terjujur dalam dirinya?
Tapi kadang sikapmu membuatku mempertanyakan lagi semuanya.
Mas, masih kah kamu bimbang untuk melangkah? Karena semua terlanjur menjadi seperti ini setelah keputusanmu beberapa tahun yang lalu itu?
Lalu sampai kapan mau begini.
Tak bisakah kamu memberi sedikit kepastian untuk semua ini.
Biar kita tak menyakiti orang lain, begitu juga kamu tak menyakiti aku ataupun dia.
Tak bisakah kamu putuskan niatmu, dan berpegang teguh pada niat itu apapun resikonya.
Ada dua hati yang tidak ingin selalu merasakan sakit.
Ada dua hati yang tidak ingin melepaskanmu.
Haruskah aku terus berharap pada sesuatu yang tak pasti, ataukah aku harus menyerah pada sesuatu yang sebenarnya masih punya harapan?
Beri kepastian agar aku tau apa yang harus kulakukan setelahnya.
Dan untukmu yang juga tersakiti.
Aku tau bagaimana perasaanmu, sakit tapi tak ingin melepaskan, berat tapi tak mungkin berpisah dengan posisimu sekarang ini.
Tapi sebelum semua menjadi semakin tak tertolong, tak bisakah kamu sekedar berpikir lebih dalam.
Kita sama-sama tau kenapa semua jadi seperti ini.
Jangan hanya menyalahkan atau membenciku, semua juga sangat menyakitkan untukku.
Tapi lihatlah lebih dalam, sebenarnya siapa yang paling tersakiti.
Bukan kita, dia lebih tersakiti karena tak ingin menyakiti kita, tapi juga tak bisa merelakan ataupun melepaskan kita begitu saja. Dia yang paling tertekan entah itu dipikiran ataupun perasaan.
Tak pernahkah kamu berpikir, apakah senyumnya tulus, apakah perlakuannya selalu dari hati bukan sekedar melaksanakan kewajiban, apakah benar dia memutuskan semuanya karena keinginannya sendiri ataukah hanya sebuah pengorbanan yang dilakukan demi seseorang.
Tak bisakah sekedar memberinya ruang untuk benar-benar berpikir.
Membiarkannya untuk memutuskan sesuai keinginan hati terdalamnya.
Dan menerima apapun keputusan akhirnya.
Agar kita bisa juga bisa memilih jalan yang pasti tanpa harus terus saling menyakiti dan tersakiti.
Butuh banyak kerelaan hati memang.
Tapi keputusan memang selalu disertai resiko.
Jika ingin tetap seperti ini terserah.
Yang perlu kamu tau, aku selalu berusaha melepaskan dan merelakan karena tak ingin menyakiti mu ataupun membuatnya jadi lebih gila.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar