Semua terjadi terlalu cepat, pertemuan dan perpisahan kita.
Aku terlalu mudah nyaman padahal kita baru mengenal. Karena ketika itu bagiku, kehadiranmu bagai tabung oksigen kala sesak napas ku tak kunjung sembuh.
Salahku terlalu cepat merasa nyaman, salahku menginginkanmu agar bisa memperbaiki hidupku, salahku yang berekspektasi terlalu tinggi padamu.
Mungkin aku yang terlalu menaruh harapan banyak, sedangkan kamu hanya sekedar datang untuk mengenal.
Tak seharusnya aku berharap lebih ketika level kita tak berada di tempat yang sama.
Kau terlalu jauh untuk ku jangkau, kau berada di awan sedangkan aku hanyalah potongan karang di dasar samudra terdalam.
Terlalu cepat aku mengira kedekatan kita sudah dalam tahap saling menerima, hingga akhirnya ketika salah satu sifat terburukku muncul, kau dengan sigap berlari mundur, menjauh.
Aku terhenyak tak percaya, semua berbalik 180 derajat dalam seketika.
Kata-kata hanya tinggal kata-kata. Kata-kata manismu kala itu yang berhasil melambungkanku tinggi, sekarang seakan berubah menjadi jarum yang menusukku berulang-ulang.
Perhatian dan sikap manis mu pun hanya tinggallah kenangan semata, kamu berubah menjadi dingin, seakan aku telah melakukan perbuatan yang amat sangat tidak bisa dimaafkan.
Dan ketika melihat mu bersama gadis-gadis itu membuatku sadar, aku hanya sekedar tempat belanja, yang kau datangi untuk mencari sesuatu tapi ketika yang kau dapat tidak sesuai keinginanmu atau bahkan yang kau cari tak ada, kau akan segera meninggalkannya tanpa menoleh lagi.
Melihatmu tersenyum, bersenda gurau bahkan saling menggenggam, bersandar.... ah aku tak bisa meneruskannya. Karena kutahan seperti apapun, rasa sakit tetap terasa ketika melihatnya dengan kedua mataku sendiri.
Kau melakukan semuanya dengan seenaknya didepanku, ya didepanku, orang yang pernah sejenak merasakan kehangatan genggaman tanganmu, walau mungkin bagimu itu tak pernah berarti apa-apa.
Tak sedikitpun kau memikirkan perasaanku lagi, atau memang kau tak pernah menghiraukanku keberadaanku. Ya apa boleh buat aku memang biasanya tembus pandang.
Sekarang, aku meyakinkan diriku sekuat tenaga untuk melepasmu, mencoba berbagai cara untuk tak lagi menghiraukanmu seperti bagaimana kau tak lagi menghiraukanku setelah kejadian itu. Tapi terlalu sulit rasanya, tangan ini tak bisa dikontrol agar tidak membuka media sosialmu, memperhatikan setiap kegiatanmu sekedar dari status, dan sering akhirnya khilaf menuliskan komentar hanya agar mendapat topik bahasan untuk sekedar ngobrol singkat.
Mulut ini tak bisa dibungkam ketika berada didekatmu, selalu berusaha memanggil namamu dan sekedar melontarkan gurauan yang bagimu terlalu garing.
Mata ini juga tak bisa diam agar tak mengarahkan pandangan padamu walau hanya sekilas.
Padahal aku sadar, mata coklatmu yang dulu memancarkan kehangatan itu, sekarang hanya berisi tatapan dingin tanpa arti. Seakan kau terlalu jijik untuk berdekatan denganku.
Kenangan kita yang singkat itu sekarang harus aku pendam dalam-dalam di peti masa lalu.
Dan akhirnya berkatmu, aku tak ingin lagi membahas tentang cinta. Aku menyerah.
Benci? Kapok? Tidak, mungkin aku hanya lelah dipermainkan oleh harapan kosong yang kubuat sendiri atas nama mu. Lelah ditinggalkan lagi.
Mungkin aku hanya perlu beristirahat hingga ada orang yang mau benar-benar menggengamku untuk merasakan hal itu lagi tanpa pernah punya keinginan untuk melepaskanku ditengah jalan.
Terima kasih untuk semua kebaikanmu yang pernah aku rasakan, semoga kau berbahagia.
Rabu, 30 Agustus 2017
Terlalu singkat. Salahku!
Jumat, 25 Agustus 2017
Ketika sebuah cerita harus berakhir
Jangka waktu tak pernah menentukan sebuah keabadian.
Ketika banyak hati yang mengganggu, hanya kamu sendiri yang bisa mengendalikan semuanya agar tidak menginginkan yang lain.
Tak ada orang yang sempurna demikian pula dirimu sendiri.
Seseorang yang mau bertahan bersamamu melewati tahun demi tahun seharusnya lebih berhak mendapatkan kesetiaanmu.
Tapi ternyata kamu memilih pergi, meninggalkannya dengan segala luka demi seseorang yang menurutmu lebih sempurna dan memenuhi semua harapan-harapanmu dan keluargamu.
Hatinya hancur menjadi kepingan-kepingan yang kini berserakan dan entah bisa disatukan lagi atau tidak.
Langganan:
Postingan (Atom)