Pagi ini hujan turun dengan sangat deras, seakan tak mengijinkanku, mengijinkan kita meninggalkan tempat indah ini. Sebenarnya bukan sesuatu yang buruk untuk bertahan disini, tapi bertahan disini bersamamulah yang membuat semuanya menjadi tidak baik-baik saja, terutama aku dan hatiku.
Karena kamu dan sikapmu yang telah berubah (lagi), dan aku yang telah kembali menjadi seseorang yang tak lagi penting untukmu, tak terlihat.
Memutuskan untuk melakukan perjalanan ini denganmu tidaklah mudah, apalagi aku dengan perasaan ku yang pernah berhasil kamu buat tak karuan. Sekuat apapun aku menahannya pasti perasaan ini akan tetap terbawa meski sedikit.
Aku memang pernah berniat untuk memendam semua perasaan ini dalam-dalam, hanya agar tak ada yang berubah diantara kita, agar aku tetap masih bisa berada didekatmu. Tapi aku berubah pikiran dengan apa yang terjadi disepanjang perjalanan ini.
Hingga akhirnya aku membulatkan tekat untuk berangkat, aku sudah membekali diriku dengan segala sikap-sikap burukmu yang bisa kapan saja akan menyakitiku. Tapi entahlah, sudut hatiku kembali membentuk harapan kosong, walau ukurannya kecil tapi cukup membuat berantakan.
Sebenarnya harapan itu tidaklah terlalu muluk-muluk, harapan itu hanya berisi keinginanku untuk diperlakukan layaknya teman yang datang dari kota yang sama. Seperti bagaimana teman-teman lelakiku dulu memperlakukanku, ya mereka juga hanya teman biasa.
Dan semuanya terjadi tepat seperti perkiraan ku sebelum berangkat. Ditempat indah itu kita dipertemukan dengan orang-orang dari daerah lain, wanita-wanita cantik nan modis, tipemu. Dan tanpa perlu waktu yang lama kamu langsung mengabaikanku dan sibuk untuk mencari perhatian dari mereka. Bahkan saat aku meminta pertolongan mu untuk suatu hal yang benar-benar tak bisa ku atasi sendiripun kamu acuh.
Tak kusangka kamu bisa setega itu, harapan kosong ku pun seakan tak ada apa-apanya dibanding itu.
Karena semua kejadian itu akupun membulatkan tekad, aku akan melupakanmu, melupakan perasaanku kepadamu lebih tepatnya, dengan sepenuhnya.
Untuk terakhir kalinya aku memberanikan diri memelukmu, membenamkan sejenak diriku dipundakmu dengan alasan yang kubuat-buat tentunya. Walau cuma beberapa detik tak apa, aku ingin menganggap ini sebagai ucapan selamat tinggal, hal manis terakhir darimu.
Setelah ini aku akan menghilangkan semuanya, perasaan bahkan kenangan-kenangan yang bahkan kamu tak ingat tapi membekas untukku. Aku akan keluar dari "zona" mu. Aku tak lagi perduli bila akhirnya kita saling menjauh atau malah bermusuhan. Itu lebih baik daripada aku selalu merasakan sakit.
Aku melakukan ini bukan demi siapa-siapa, ini demi aku, demi perasaanku. Perasaan tulus yang selalu kau remehkan dan kau tertawakan.
Inilah akhirnya, akhir dari semuanya.
Jumat, 20 April 2018
Terakhir
Sabtu, 07 April 2018
Lagi, (masih) Salahku!!
Kamu lagi, lagi lagi kamu.
Kenapa aku terus berkutat dan terjebak di duniamu yang penuh dengan kesemuan itu?
Aku sempat mengumpulkan niat untuk pergi menjauh darimu ketika itu, ketika kamu memutuskan untuk mendekatinya, gadis cantik dari kota sebelah.
Kupikir semua akan berakhir seperti itu, tentangmu dan tentang kita.
Tapi yang terjadi selanjutnya tidak sesuai dengan rencanaku.
Kamu kembali berpaling kepadaku, setelah kamu gagal mendapatkan gadis cantik kota sebelah itu, karena kamu tau aku akan selalu ada ditempat yang sama untukmu.
Dan bodohnya aku menerima kedatanganmu dengan bahagia dan hati yang terbuka, padahal aku sendiri sudah menyadari bahwa aku hanyalah tempat persinggahanmu ketika kamu lelah, tempat pelarianmu ketika apa yang kamu inginkan tidak berhasil kamu dapatkan, dan tempatmu mengeluh kesah tentang hal-hal yang membuatmu resah.
Sikapmu kembali berubah, kamu membuaiku dengan perhatian-perhatian kecilmu, perbicangan tengah malam tentang apapun, sentuhan sentuhan kecil yang menyamankanku, tatapan dan senyum hangat yang melelehkanku.
Dan akhirnya aku terjatuh lagi, kupikir ini akan berlanjut tanpa perlu ada akhir. Aku ingin sekali lagi percaya pada harapan kosong yang kubuat sendiri, aku ingin sekali lagi percaya bahwa ada ketulusan dari setiap hal yang kamu lakukan untukku, dengan bodohnya.
Tapi sayang, sama seperti sebelumnya, semua kenyamanan itu tidak bertahan lama, semuanya terulang lagi seperti terakhir kali.
Sesosok gadis cantik kembali hadir dan menyita perhatian mu. Urutan prioritas berubah dalam sekejap. Tak ada lagi panggilan-panggilan iseng hanya untuk menanyakan apa yang sedang kulakukan atau pembicaraan-pembicaraan yang tanpa sadar sudah memakan waktu ber jam-jam. Tak ada lagi ajakan-ajakan bertemu hanya untuk sekedar menemani makan atau memberikan pelukan pelepas penat dan rindu itu.
Didepanku, kamu bahkan dengan tanpa perasaan menunjukkan kedekatanmu dengannya. Bahkan kamu seperti tak lagi mengenalku, kamu selalu menghindariku.
Aku? Mendekati mu pun seakan tak punya nyali, padahal dalam hati aku sangat ingin menarikmu ke tempat lain dan mempertanyakan semuanya sembari melihat secara langsung mata coklatmu itu.
Aku terlalu takut apabila aku melakukannya kamu akan langsung menjauhiku, tak lagi ingin mengenalku. Aku takut tak lagi bisa melihat tatapanmu yang teduh dan senyummu yang hangat itu.
Akupun tahu diri, aku bukanlah apa-apa dibandingkan dia yang tengah menikmati kehangatan senyummu itu.
Aahh... Tapi aku masih tak tahan, aku masih ingin menanyakannya.
Lalu, apa arti semua kenyamanan, semua kehangatan yang sempat kamu beri kemarin? Tak pernah adakah sedikit campur tangan perasaan dalam setiap hal yang telah kita alami kemarin?
Ayolah, kurasa kamu bukan orang sejahat itu.
Andai bisa, aku ingin kamu tau dan menjawab pertanyaan ini, agar aku tau posisiku, agar aku tak lagi meninggikan harap padamu karena sungguh harapan itu hanya membuat semuanya terasa lebih menyakitkan.
Tapi sama seperti sebelumnya, tulisan ini hanyalah sebuah tulisan yang hanya akan bertumpuk dan hilang dimakan waktu tanpa pernah akan kamu ketahui keberadaannya.
Akhirnya yang tersisa hanyalah aku yang harus kembali menata hati dan menerima kenyataan bahwa aku hanya bisa menyayangimu sebatas ini tanpa bisa meraihmu kepelukku. Aku harus puas dengan masih adanya kesempatan untuk bisa bertemu denganmu, menikmati senyuman dan canda tawamu. Tanpa ada lagi keserakahan untuk menjadi sehati.