Sabtu, 07 April 2018

Lagi, (masih) Salahku!!

Kamu lagi, lagi lagi kamu.
Kenapa aku terus berkutat dan terjebak di duniamu yang penuh dengan kesemuan itu?
Aku sempat mengumpulkan niat untuk pergi menjauh darimu ketika itu, ketika kamu memutuskan untuk mendekatinya, gadis cantik dari kota sebelah.
Kupikir semua akan berakhir seperti itu, tentangmu dan tentang kita.
Tapi yang terjadi selanjutnya tidak sesuai dengan rencanaku.
Kamu kembali berpaling kepadaku, setelah kamu gagal mendapatkan gadis cantik kota sebelah itu, karena kamu tau aku akan selalu ada ditempat yang sama untukmu.
Dan bodohnya aku menerima kedatanganmu dengan bahagia dan hati yang terbuka, padahal aku sendiri sudah menyadari bahwa aku hanyalah tempat persinggahanmu ketika kamu lelah, tempat pelarianmu ketika apa yang kamu inginkan tidak berhasil kamu dapatkan, dan tempatmu mengeluh kesah tentang hal-hal yang membuatmu resah.
Sikapmu kembali berubah, kamu membuaiku dengan perhatian-perhatian kecilmu, perbicangan tengah malam tentang apapun, sentuhan sentuhan kecil yang menyamankanku, tatapan dan senyum hangat yang melelehkanku.
Dan akhirnya aku terjatuh lagi, kupikir ini akan berlanjut tanpa perlu ada akhir. Aku ingin sekali lagi percaya pada harapan kosong yang kubuat sendiri, aku ingin sekali lagi percaya bahwa ada ketulusan dari setiap hal yang kamu lakukan untukku, dengan bodohnya.
Tapi sayang, sama seperti sebelumnya, semua kenyamanan itu tidak bertahan lama, semuanya terulang lagi seperti terakhir kali.
Sesosok gadis cantik kembali hadir dan menyita perhatian mu. Urutan prioritas berubah dalam sekejap. Tak ada lagi panggilan-panggilan iseng hanya untuk menanyakan apa yang sedang kulakukan atau pembicaraan-pembicaraan yang tanpa sadar sudah memakan waktu ber jam-jam. Tak ada lagi ajakan-ajakan bertemu hanya untuk sekedar menemani makan atau memberikan pelukan pelepas penat dan rindu itu.
Didepanku, kamu bahkan dengan tanpa perasaan menunjukkan kedekatanmu dengannya. Bahkan kamu seperti tak lagi mengenalku, kamu selalu menghindariku.
Aku? Mendekati mu pun seakan tak punya nyali, padahal dalam hati aku sangat ingin menarikmu ke tempat lain dan mempertanyakan semuanya sembari melihat secara langsung mata coklatmu itu.
Aku terlalu takut apabila aku melakukannya kamu akan langsung menjauhiku, tak lagi ingin mengenalku. Aku takut tak lagi bisa melihat tatapanmu yang teduh dan senyummu yang hangat itu.
Akupun tahu diri, aku bukanlah apa-apa dibandingkan dia yang tengah menikmati kehangatan senyummu itu.
Aahh... Tapi aku masih tak tahan, aku masih ingin menanyakannya.
Lalu, apa arti semua kenyamanan, semua kehangatan yang sempat kamu beri kemarin? Tak pernah adakah sedikit campur tangan perasaan dalam setiap hal yang telah kita alami kemarin?
Ayolah, kurasa kamu bukan orang sejahat itu.
Andai bisa, aku ingin kamu tau dan menjawab pertanyaan ini, agar aku tau posisiku, agar aku tak lagi meninggikan harap padamu karena sungguh harapan itu hanya membuat semuanya terasa lebih menyakitkan.
Tapi sama seperti sebelumnya, tulisan ini hanyalah sebuah tulisan yang hanya akan bertumpuk dan hilang dimakan waktu tanpa pernah akan kamu ketahui keberadaannya.
Akhirnya yang tersisa hanyalah aku yang harus kembali menata hati dan menerima kenyataan bahwa aku hanya bisa menyayangimu sebatas ini tanpa bisa meraihmu kepelukku. Aku harus puas dengan masih adanya kesempatan untuk bisa bertemu denganmu, menikmati senyuman dan canda tawamu. Tanpa ada lagi keserakahan untuk menjadi sehati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar