Jumat, 20 April 2018

Terakhir

Pagi ini hujan turun dengan sangat deras, seakan tak mengijinkanku, mengijinkan kita meninggalkan tempat indah ini. Sebenarnya bukan sesuatu yang buruk untuk bertahan disini, tapi bertahan disini bersamamulah yang membuat semuanya menjadi tidak baik-baik saja, terutama aku dan hatiku.
Karena kamu dan sikapmu yang telah berubah (lagi), dan aku yang telah kembali menjadi seseorang yang tak lagi penting untukmu, tak terlihat.
Memutuskan untuk melakukan perjalanan ini denganmu tidaklah mudah, apalagi aku dengan perasaan ku yang pernah berhasil kamu buat tak karuan. Sekuat apapun aku menahannya pasti perasaan ini akan tetap terbawa meski sedikit.
Aku memang pernah berniat untuk memendam semua perasaan ini dalam-dalam, hanya agar tak ada yang berubah diantara kita, agar aku tetap masih bisa berada didekatmu. Tapi aku berubah pikiran dengan apa yang terjadi disepanjang perjalanan ini.
Hingga akhirnya aku membulatkan tekat untuk berangkat, aku sudah membekali diriku dengan segala sikap-sikap burukmu yang bisa kapan saja akan menyakitiku. Tapi entahlah, sudut hatiku kembali membentuk harapan kosong, walau ukurannya kecil tapi cukup membuat berantakan.
Sebenarnya harapan itu tidaklah terlalu muluk-muluk, harapan itu hanya berisi keinginanku untuk diperlakukan layaknya teman yang datang dari kota yang sama. Seperti bagaimana teman-teman lelakiku dulu memperlakukanku, ya mereka juga hanya teman biasa.
Dan semuanya terjadi tepat seperti perkiraan ku sebelum berangkat. Ditempat indah itu kita dipertemukan dengan orang-orang dari daerah lain, wanita-wanita cantik nan modis, tipemu. Dan tanpa perlu waktu yang lama kamu langsung mengabaikanku dan sibuk untuk mencari perhatian dari mereka. Bahkan saat aku meminta pertolongan mu untuk suatu hal yang benar-benar tak bisa ku atasi sendiripun kamu acuh.
Tak kusangka kamu bisa setega itu, harapan kosong ku pun seakan tak ada apa-apanya dibanding itu.
Karena semua kejadian itu akupun membulatkan tekad, aku akan melupakanmu, melupakan perasaanku kepadamu lebih tepatnya, dengan sepenuhnya.
Untuk terakhir kalinya aku memberanikan diri memelukmu, membenamkan sejenak diriku dipundakmu dengan alasan yang kubuat-buat tentunya. Walau cuma beberapa detik tak apa, aku ingin menganggap ini sebagai ucapan selamat tinggal, hal manis terakhir darimu.
Setelah ini aku akan menghilangkan semuanya, perasaan bahkan kenangan-kenangan yang bahkan kamu tak ingat tapi membekas untukku. Aku akan keluar dari "zona" mu. Aku tak lagi perduli bila akhirnya kita saling menjauh atau malah bermusuhan. Itu lebih baik daripada aku selalu merasakan sakit.
Aku melakukan ini bukan demi siapa-siapa, ini demi aku, demi perasaanku. Perasaan tulus yang selalu kau remehkan dan kau tertawakan.
Inilah akhirnya, akhir dari semuanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar