Akhirnya hari itu datang juga. Hari yang tak pernah kutunggu, hari yang sama sekali tidak kuinginkan tiba. Hari itu, hari dimana kamu akhirnya resmi memilih dan berikrar sehidup semati dengan wanita lain. Ingin rasanya aku tak melalui hari itu, tapi waktu terlalu kejam, dia tak mau menghentikan atau melewatkan satu detikpun.
Jauh-jauh hari aku sudah mempersiapkan semuanya, hati dan mentalku untuk menghadapi semuanya. Tapi beberapa hari sebelum hari itu tiba, serangan panik dan sesak tak bisa kuhindari. Kepalaku seperti ditindih batu raksasa, mau pecah. Setiap pagi aku bangun dan panik, berkeringat dingin mengingat kamu akan menjadi milik orang lain. Rasanya aku tak ingin terbangun dari tidurku, aku ingin beristirahat lebih lama dan bangun ketika semua sudah baik-baik saja.
Kita seperti orang gila, tak ingin saling melepaskan genggaman itu, air mata juga seakan tak mau berhenti. Andaikan semua tidak serumit ini. Ah... Kita sendiri yang membuatnya rumit. Saatnya kita menerima resikonya. Sudah tak tertolong lagi.
Satu per satu orang yang mengetahui cerita kita dan mendapat undangan berwarna kuning itu mengabari dan menanyakan keadaanku. Tak kusangka itu memberi efek yang bahkan lebih buruk. Aku seakan terpojokkan, tertindih, teraniaya kenyataan. Mereka bertanya apa aku baik-baik saja, tentu aku menjawab bahwa aku baik-baik saja walau sebenarnya aku remuk. Banyak juga yang bilang kalau aku baik-baik saja, aku pasti bisa melewati semuanya. Bahkan ada yang menyalahkan semua kebodohanku. Ya, biarlah mereka berkata semau mereka, karena mereka bukan aku, mereka tak akan pernah tau rasanya jadi aku.
Tapi kadang di satu titik, aku masih berharap ada orang yang akan memahamiku, orang yang akan mengatakan bahwa sekarang ini aku tidak baik-baik saja, orang yang menyuruhku menangis sepuas hatiku, orang yang tak akan menyalahkanku atas semua yang telah terjadi, orang yang bahkan tak perlu mengeluarkan komentar apapun dihadapanku dan hanya memberikan genggaman dan pelukan hangat, juga bahu untuk menangis.
Egois kah aku? Salahkah aku? Hey, ini cuma harapan, ayolah jangan selalu menyalahkan semuanya.
Satu hal yang aku sadari, kini semuanya akan benar-benar berubah. Di hari kamu terikat janji suci dengannya, di hari itu pula semuanya berakhir.
Selamat Tinggal kamu...
Semoga kamu bahagia...
Doakan aku juga berbahagia....
Selasa, 31 Oktober 2017
The Day
Langganan:
Postingan (Atom)