Kamis, 09 November 2017

Kamu abu-abu.

Hai kamu, pria bermata cokelat dan berkulit sawo matang.
Kenapa kamu selalu mondar mandir dipikiranku beberapa hari ini?
Keliatannya kamu kembali berhasil membuat perasaanku acak-acakan lagi, padahal sudah sekuat tenaga aku memberi tameng untuk hatiku ini.
Aku sadar itu sepenuhnya salahku, aku tau itu api, tapi aku malah memainkannya, dan sekarang api itu membakarku sedikit demi sedikit tanpa mau padam.
Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?
Padahal kamu saja tak sempat memikirkanku, semua yang terjadi seakan hanya sebuah mimpi, mimpi indah untukku tapi mungkin mimpi buruk untukmu.
Andai bisa dan andai kamu mengijinkan ingin aku terus menggenggam tangan hangatmu itu, nyaman rasanya, membuat kepalaku yang kala itu seperti ditimpa batu menjadi sedikit ringan.
Berlebihan ya? Mungkin karena aku terlalu merindukan hangatnya perhatian dari seseorang yang bisa membuat hatiku bergejolak. Dan kamu berhasil melakukannya.
Bodoh! Ingin rasanya aku mengumpat diriku sendiri. Karena awalnya aku hanya ingin membuatmu sedikit memikirkanku, dan yang terjadi malah aku yang kembali berantakan karena mu.
Aku harus mengulang semua yang pernah kulakukan untuk melupakanmu.
Dan aku harus selalu mengingat bahwa kamu tak akan pernah tertarik padaku yang cuma remahan krupuk ini. Aku harus tahu diri!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar