Malam ini terasa dingin, hujan deras sudah dengan puas mengguyur daerah ini. Secangkir cokelat panas yang baru saja kubuat rasanya mendingin dengan cepat. Aku menerawang, saat seperti ini memang selalu berhasil mengajakku berlari dalam dunia khayalku yang penuh dengan kenangan bersamamu. Iya, kamu yang seharusnya tak perlu hadir dalam hidupku, kamu yang seharusnya tak perlu mengenalku.
Sejak awal pertemuan kita, rasa nyaman itu telah hadir. Kamu dengan kulitmu yang kecoklatan, senyum yang mendamaikan dan mata yang meneduhkan mampu mengalihkan perhatianku. Tapi saat itu semuanya tidak tepat, aku dan kamu sama-sama telah ada yang memiliki. Tak beberapa lama setelah kita kenal, hubunganku dengannya kandas. Aku hancur menjadi berkeping-keping karena kejadian itu. Dan ketika itu kamulah yang selalu ada untukku. Aku tau kamu menyimpan ketertarikan padaku, tapi aku sendiri belum yakin dengan perasaanku, disamping itu kau masih bersamanya. Aku takut dan tidak mau jika harus menjadi orang ketiga dalam hubungan kalian. Karena itulah aku bersikap dingin dan super duper cuek menghadapi semua perhatianmu.
Andai kau tau, dibalik semua sikapku yang mungkin menurutmu jahat, aku selalu memperhatikanmu tanpa berani menunjukkan perhatianku itu. Aku selalu memperhatikanmu lewat semua update statusmu di media sosial. Aku juga selalu mengupdate statusku berharap kau akan memberi komentar dan kita bisa sekedar berbicara lewatnya. Tanpa kau tau aku selalu berharap dapat berbincang denganmu, aku selalu bahagia ketika kau memperhatikanku, bahkan aku terharu melihat bagaimana kau memperhatikanku.
Sebulan yang lalu, terakhir kita bertemu ketika kita mengikuti camp selama seminggu, aku sangat bahagia bisa berada di tim yang sama denganmu. Dan aku tahu kau juga merasakan hal yang sama. Ketika itu semua terasa indah. Andaikan waktu bisa berhenti, aku ingin terus bisa berada disampingmu seperti ketika itu. Tapi waktu memang kejam, dia tak akan pernah perduli dengan apapun dan siapapun, yang dia tau dia akan terus berjalan tanpa ada yang bisa menghentikannya.
Sebelum camp itu berakhir, aku menyadari semuanya. Aku tak seharusnya menanggapi semua perasaanmu dan semua perhatianmu kalau aku tidak ingin disebut orang ketiga, orang pengrusak hubungan orang lain. Karena itulah aku melakukan hal yang sejujurnya aku tak mampu melakukannya padamu. Tapi memang ini yang harus aku lakukan.
“kamu cuma teman untukku, tapi kamu teman terbaikku” kata-kata itu yang keluar ketika kamu menanyakan perasaanku padamu. Aku melihat sorot mata teduhmu menjadi kosong dan hampa walaupun bibirmu melukiskan senyuman dan melontarkan candaan untuk mengalihkan pembicaraan. Mungkin hatimu akan sakit, tapi ini lebih baik. Kamu bisa mengembalikan hatimu seluruhnya dan seutuhnya untuk kekasihmu dan melupakanku.
Setelah kejadian itu kita tak lagi sering bertemu, frekuensi perhatianmu juga berkurang. Aku tahu ini akan terjadi. Jujur aku merindukanmu, merindukan semua perhatianmu. Tapi, ini lebih baik daripada aku membuatmu lebih tersiksa dengan semua sikapku yang seolah-olah tak menginginkanmu ada disisiku. Padahal yang kurasakan sebaliknya.
Tahukah kamu, aku juga sakit ketika mengatakan hal itu. Tapi kata-kata itu, aku berharap itu bisa terjadi, kita bisa terus berteman, menjadi teman baik. Semoga....
Maafkan aku, yang telah lancang menggengam tanganmu. Maafkan aku yang telah hadir dalam hidupmu dan memporak-porandakan perasaanmu. Maafkan aku yang yang bersikap jahat padamu. Maafkan aku karena aku menyayangimu.
Lamunanku membawaku jauh mengenangmu, mengenang genggaman hangat tanganmu, mengenang senyum manismu, mengenang mata teduhmu, mengenang canda tawa kita yang mungkin tak akan lagi terjadi.
harapanku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar